Masalah makan memakan sebenarnya aku
tidak terlalu jago, namun kalo urusan radar pencarian warung murah ya aku
dikit-dikit juga tahu lah. Warung murah
atau istilah DEE di
novel Perahu Kertasya Pemadam Kelaparan, banyak sekali. Salah satu warung langgananku yaitu warung
PGSD. Kenapa di beri nama warung PGSD sebab memang lokasinya berada di depan
bangunan PGSD. Tempatnya yang teduh sebab berada di bawah pohon kenitu membuat
tempat ini asyik untuk dikunjungi saat cuaca terik. Tak jarang ketika jam
istirahat tiba kamu bisa cuci mata melihat mahasiswi-mahasiswi FKIP. Ya,
sekedar sebagai teman buat menunggu pesanan yang belum jadi atau saat sedang
makan. Dengan uang Rp 3500 kalian bisa menikmati nasi pecel dengan lauk telur.
Mungkin saat ini harganya naik 500 rupiah. Sebab terakhir saat saya mencari
makan di sana harganya sepertinya naik. Dan itu tidak hanya di warung ini namun
di warung-warung lain juga sama.
Tempat makan
lain yang juga patut di coba karena harganya yang murah yaitu warung gang
citra. Letaknya di gang utara kampus pertanian. Warung ini letaknya agak masuk
jadi bukan yang letaknya di deket jalan raya. Favorit pesanan saya di warung
ini yaitu nasi dengan sambal terong balado. Rasanya menurut saya asyik deh.
Pedesnya pas menurut ukuran lidah saya dan bumbunya juga pas. Pokoknya dengan
lauk ini sepiring nasi bisa tandas. Masalah lauk kalian juga bisa bebas
memilih. Kalau saya biasanya memakai lauk telur dadar. Harganya cukup
terjangkau. Cuma 3500 perak. Selain warung makan berat makanan favoritku saat
lagi males makan di kosan yaitu somay Mamang. Ya somay ini asli dari bandung
loh. Soalnya yang buat memang asalnya dari sana. Namanya Mamang. Sering juga
dia ngomong memakai bahasa sunda gitu pas lagi nelpon seseorang. Yang menjadi
spesial dari somay ini yaitu kalian bisa meracik bumbunya sendiri. Ambil-ambil
sendiri, memperkirakan sendiri. Itu yang bikin asyik, sehingga dari situ kita
bisa mencoba-coba dengan resep kombinasi yang kita buat sendiri. Harganya juga
sangat murah. Untuk tahu, somay basah, somay goreng, lontong harganya Cuma 500
rupiah. Untuk pentolnya tersedia beraneka ragam. Kalian bisa memilih untuk
membeli yang harganya 1000, 2000 ataupun yang pentol spesial, yaitu pentol
mercon. Di sebut mercon soalnya ketika kalian menghabiskan satu pentol maka
mulut kalian serasa meledak. Soalnya isinya pure sambal. Namun untuk yang
pentol mercon jujur saya belum pernah merasakan yang punyaknya mamang, namun
untuk bakso lain pernah lah. Memang sensasinya itu yang bikin kita ketagihan
untuk mencobanya lagi. Sebenarnya masih banyak tempat makan lain yang juga
patut di coba. Warung bu sri yang ada di Jalan Sumatra, warung Bu Indri di
jalan Kalimantan X juga recomended menurutku. Walaupun penjualnya agak gimana
gitu namun rasa masakannya dan tempe gorengnya itu yang bikin saya kangen untuk
makan di sana lagi. Mie ayam jamur
cespleng yang rasanya nampar banget.
Kadang kalau pas ada rejeki ya sesekali juga pernah lah masuk ke Bebek Goreng
Slamet, Rumah makan Wong Solo, dan pernah juga ke PH. Namun untuk PH sepertinya
lidahku tidak bisa merasakan. Nggak suka rasanya pokoknya. Lebih seneng makan
dengan lalapan ayam goreng daripada makan pizza di PH. Hehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar