Sabtu, 09 Februari 2013

Warung Pemadam Kelaparan. Part 4

Masalah makan memakan sebenarnya aku tidak terlalu jago, namun kalo urusan radar pencarian warung murah ya aku dikit-dikit juga tahu lah.  Warung murah atau istilah DEE di novel Perahu Kertasya Pemadam Kelaparan, banyak sekali. Salah satu warung langgananku yaitu warung PGSD. Kenapa di beri nama warung PGSD sebab memang lokasinya berada di depan bangunan PGSD. Tempatnya yang teduh sebab berada di bawah pohon kenitu membuat tempat ini asyik untuk dikunjungi saat cuaca terik. Tak jarang ketika jam istirahat tiba kamu bisa cuci mata melihat mahasiswi-mahasiswi FKIP. Ya, sekedar sebagai teman buat menunggu pesanan yang belum jadi atau saat sedang makan. Dengan uang Rp 3500 kalian bisa menikmati nasi pecel dengan lauk telur. Mungkin saat ini harganya naik 500 rupiah. Sebab terakhir saat saya mencari makan di sana harganya sepertinya naik. Dan itu tidak hanya di warung ini namun di warung-warung lain juga sama.
Tempat makan lain yang juga patut di coba karena harganya yang murah yaitu warung gang citra. Letaknya di gang utara kampus pertanian. Warung ini letaknya agak masuk jadi bukan yang letaknya di deket jalan raya. Favorit pesanan saya di warung ini yaitu nasi dengan sambal terong balado. Rasanya menurut saya asyik deh. Pedesnya pas menurut ukuran lidah saya dan bumbunya juga pas. Pokoknya dengan lauk ini sepiring nasi bisa tandas. Masalah lauk kalian juga bisa bebas memilih. Kalau saya biasanya memakai lauk telur dadar. Harganya cukup terjangkau. Cuma 3500 perak. Selain warung makan berat makanan favoritku saat lagi males makan di kosan yaitu somay Mamang. Ya somay ini asli dari bandung loh. Soalnya yang buat memang asalnya dari sana. Namanya Mamang. Sering juga dia ngomong memakai bahasa sunda gitu pas lagi nelpon seseorang. Yang menjadi spesial dari somay ini yaitu kalian bisa meracik bumbunya sendiri. Ambil-ambil sendiri, memperkirakan sendiri. Itu yang bikin asyik, sehingga dari situ kita bisa mencoba-coba dengan resep kombinasi yang kita buat sendiri. Harganya juga sangat murah. Untuk tahu, somay basah, somay goreng, lontong harganya Cuma 500 rupiah. Untuk pentolnya tersedia beraneka ragam. Kalian bisa memilih untuk membeli yang harganya 1000, 2000 ataupun yang pentol spesial, yaitu pentol mercon. Di sebut mercon soalnya ketika kalian menghabiskan satu pentol maka mulut kalian serasa meledak. Soalnya isinya pure sambal. Namun untuk yang pentol mercon jujur saya belum pernah merasakan yang punyaknya mamang, namun untuk bakso lain pernah lah. Memang sensasinya itu yang bikin kita ketagihan untuk mencobanya lagi. Sebenarnya masih banyak tempat makan lain yang juga patut di coba. Warung bu sri yang ada di Jalan Sumatra, warung Bu Indri di jalan Kalimantan X juga recomended menurutku. Walaupun penjualnya agak gimana gitu namun rasa masakannya dan tempe gorengnya itu yang bikin saya kangen untuk makan di sana lagi.  Mie ayam jamur cespleng  yang rasanya nampar banget. Kadang kalau pas ada rejeki ya sesekali juga pernah lah masuk ke Bebek Goreng Slamet, Rumah makan Wong Solo, dan pernah juga ke PH. Namun untuk PH sepertinya lidahku tidak bisa merasakan. Nggak suka rasanya pokoknya. Lebih seneng makan dengan lalapan ayam goreng daripada makan pizza di PH. Hehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar