Reynata
Saraswati, ya itulah namanya. Agak aneh memang. Aku juga ngerasa gitu ketika
mendengar namanya pertama kali. Dia adik kelasku ketika masih di SMA. Waktu aku
kelas 3 SMA dia masih kelas 1. Aku sering melihatanya ketika aku sedang dinas
di koperasi SMA. Koperasi Mutiara. Bukan dinas sih sebenarnya tepatnya, tapi Cuma
membantu melayani pembeli yang sedang membeli kue atau makanan kecil di sana.
Saat itu aku memang belum terlalu kenal dia, namun ya aku ngerasa aneh aja
melihat cewek berkacamata bulat yang sering bingung ketika mau membeli kue.
Waktu itu aku juga agak malu untuk sekedar menyapa, ya agak minder juga soalnya
ataupun mungkin cuek bisa di bilang.
Tiga tahun
berlalu, saat ini aku sudah menginjak semester 6. Malam-malam waktu pikiranku
agak capek akibat seharian mengerjakan tugas kuliah dan praktikum, sejenak aku
buka fb ku. Ya sekedar melihat-lihat saja status teman. Mungkin aja ada yang
bagus. Ada juga yang alay, lucu. Dan tak ketinggalan status-status galau yang
bikin galau juga bagi yang baca. Tiba-tiba saja mataku terpaku pada
status-status unik, tidak lazim namun kata-katanya dalam. Aku pikir yang
menulis ini pastinya seseorang yang dewasa, itu bisa di lihat dari bobot
tulisannya. Reynata Saraswati. Pikiranku melayang mengingat memoriku ketika SMA.
Ya, nama yang sebenarnya tidak begitu asing bagiku.
Aku coba
ngechat dia di ruang chatting.
“Assalamualaikum.. ” sejenak
aku tunggu dia membalas chat.
“Wa alaikum
salam.. ” balasnya.
“Reynata ya.
“
“Ya mas..
hahaha. Aku kan adek kelas pas SMA”
“Oya, aku
agak inget” balasku. Dan akhirnya percakapanku dengannya pun mengalir lancar
layaknya air kran yang baru dibuka. Mulai tanya sesuatu yang ringan, penuh
celetukan, penuh guyon dan dengan bahasanya yang memang agak kasar sebenarnya untuk
ukuran seorang cewek.
Perkenalanku
denganya pun berlanjut di sms. Ya kadang aku tanya-tanya ke dia, saling share
tentang kehidupannya, cita-citanya. Dan yang paling berkesan juga tentang
prinsip-prinsipnya. “Eh, kamu iku jomblo ya?” tanyaku pada suatu waktu.
“Hahaha,, kenapa mas emangnya, aku iku orangnya susah jatuh cinta mas, tapi
juga susah buat ngelupain seseorang ketika sudah suka”. Dari percakapannya aku
tahu sesuatu. Dulu dia sempet suka ke seseorang cowok. Cinta pada pandangan
pertama bisa di sebut, namun cinta yang nggak keturutan soalnya memang tidak
pernah di ungkapin.
“Mas, kalau
aku cinta ke seseorang cowok aku ngga akan ngomong ke dia. Aku Cuma curhat aja
ke Alloh. Dan yang paling penting itu gimana kita memantaskan diri kita aja.
Inget ya mas. Wanita baik iku untuk pria baik dan sebaliknya. Pria baik juga
untuk wanita baik juga kan?” Ya kata-kata itulah yang sering aku dengar
darinya. Sebuah prinsip yang memang sudah di pegang teguh olehnya. Prinsip
hidup yang membuatnya tenang hingga sekarang ketika berbicara masalah ginian.
“Santai aja mas, urusan jodoh iku udah ada di sana, ntar kalau sudah waktunya
pasti Alloh akan menunjukkan dia koq. Ini bukan pasrah, tapi suatu keikhlasan.
Jadi ngga usah galau lah mas”.
Memang
banyak yang aku pelajari dari nya. Untuk ukuran cewek seumurannya memang
perkataannya mendahului usianya. Usianya saat itu masih 19 tahun namun aku juga
heran koq bisa pemikirannya kayak anak umur 23 tahun. Pemikirannya tentang masalah
kehidupan memang kadang lebih dalam dari apa yang aku pikirkan. Kadang juga
sempet terpikir kalo anak ini memang agak aneh. Pernah dia cerita juga tentang
masa kecilnya yang agak aneh. Ketika dia masih di SD. “Mas, sory ya, aku ngomongnya
memang kasar gini. Bahasaku ya radak medok juga. Mbiyen pas jaman SD smpet aku
nggak duwe konco gara-gara bahasaku aneh. Jawa tapi logat bali, jadinya ya aku
ngobrolnya sama bapak-bapak tukang becak, tukang sapu. Hahaha.” Aku bayangkan seorang
anak SD sedang ngobrol dengan tukang becak, hahaha, kayaknya agak ganjil juga
ya.
Gaya bicaranya,
prinsipnya, modelnya yang santai, ngga mau ribet kadang bikin aku ngiri juga.
Kadang aku merasa agak jaim ketika sedang bersama praktikanku, jadi ngerasa
tidak bisa bebas malahan. Itu berbanding dengan nya. Dia orangnya yang nggak
suka alay, narsis ketika di depan cowok cakep, stay cool. Ya memang intinya aku
senang berteman dengannya, dengannya aku bisa banyak belajar sedikit tentang
pemikirannya yang kadang memang sering berlainan denganku. Tapi bukankah itu
akan lebih memperkaya pemahamanku, juga lebih mendewasakanku. Memahami keunikan
tiap orang sehingga aku bisa menyimpulkan kalau Every one is Special, mereka mempunyai sisi-sisi keunikan
tersendiri yang kadang hal itu akan menjadi menarik ketika kita renungkan,
sehingga kita tidak merasa benar sendiri.
Jember,
26 Oktober 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar