Sabtu, 09 Februari 2013

Reynata Saraswati


Reynata Saraswati, ya itulah namanya. Agak aneh memang. Aku juga ngerasa gitu ketika mendengar namanya pertama kali. Dia adik kelasku ketika masih di SMA. Waktu aku kelas 3 SMA dia masih kelas 1. Aku sering melihatanya ketika aku sedang dinas di koperasi SMA. Koperasi Mutiara. Bukan dinas sih sebenarnya tepatnya, tapi Cuma membantu melayani pembeli yang sedang membeli kue atau makanan kecil di sana. Saat itu aku memang belum terlalu kenal dia, namun ya aku ngerasa aneh aja melihat cewek berkacamata bulat yang sering bingung ketika mau membeli kue. Waktu itu aku juga agak malu untuk sekedar menyapa, ya agak minder juga soalnya ataupun mungkin cuek bisa di bilang.

Tiga tahun berlalu, saat ini aku sudah menginjak semester 6. Malam-malam waktu pikiranku agak capek akibat seharian mengerjakan tugas kuliah dan praktikum, sejenak aku buka fb ku. Ya sekedar melihat-lihat saja status teman. Mungkin aja ada yang bagus. Ada juga yang alay, lucu. Dan tak ketinggalan status-status galau yang bikin galau juga bagi yang baca. Tiba-tiba saja mataku terpaku pada status-status unik, tidak lazim namun kata-katanya dalam. Aku pikir yang menulis ini pastinya seseorang yang dewasa, itu bisa di lihat dari bobot tulisannya. Reynata Saraswati. Pikiranku melayang mengingat memoriku ketika SMA. Ya, nama yang sebenarnya tidak begitu asing bagiku.
Aku coba ngechat dia di ruang chatting.

“Assalamualaikum.. ” sejenak aku tunggu dia membalas chat.

“Wa alaikum salam.. ” balasnya.

“Reynata ya. “

“Ya mas.. hahaha. Aku kan adek kelas pas SMA”

“Oya, aku agak inget” balasku. Dan akhirnya percakapanku dengannya pun mengalir lancar layaknya air kran yang baru dibuka. Mulai tanya sesuatu yang ringan, penuh celetukan, penuh guyon dan dengan bahasanya yang memang agak kasar sebenarnya untuk ukuran seorang cewek.

Perkenalanku denganya pun berlanjut di sms. Ya kadang aku tanya-tanya ke dia, saling share tentang kehidupannya, cita-citanya. Dan yang paling berkesan juga tentang prinsip-prinsipnya. “Eh, kamu iku jomblo ya?” tanyaku pada suatu waktu. “Hahaha,, kenapa mas emangnya, aku iku orangnya susah jatuh cinta mas, tapi juga susah buat ngelupain seseorang ketika sudah suka”. Dari percakapannya aku tahu sesuatu. Dulu dia sempet suka ke seseorang cowok. Cinta pada pandangan pertama bisa di sebut, namun cinta yang nggak keturutan soalnya memang tidak pernah di ungkapin.
“Mas, kalau aku cinta ke seseorang cowok aku ngga akan ngomong ke dia. Aku Cuma curhat aja ke Alloh. Dan yang paling penting itu gimana kita memantaskan diri kita aja. Inget ya mas. Wanita baik iku untuk pria baik dan sebaliknya. Pria baik juga untuk wanita baik juga kan?” Ya kata-kata itulah yang sering aku dengar darinya. Sebuah prinsip yang memang sudah di pegang teguh olehnya. Prinsip hidup yang membuatnya tenang hingga sekarang ketika berbicara masalah ginian. “Santai aja mas, urusan jodoh iku udah ada di sana, ntar kalau sudah waktunya pasti Alloh akan menunjukkan dia koq. Ini bukan pasrah, tapi suatu keikhlasan. Jadi ngga usah galau lah mas”.
Memang banyak yang aku pelajari dari nya. Untuk ukuran cewek seumurannya memang perkataannya mendahului usianya. Usianya saat itu masih 19 tahun namun aku juga heran koq bisa pemikirannya kayak anak umur 23 tahun. Pemikirannya tentang masalah kehidupan memang kadang lebih dalam dari apa yang aku pikirkan. Kadang juga sempet terpikir kalo anak ini memang agak aneh. Pernah dia cerita juga tentang masa kecilnya yang agak aneh. Ketika dia masih di SD. “Mas, sory ya, aku ngomongnya memang kasar gini. Bahasaku ya radak medok juga. Mbiyen pas jaman SD smpet aku nggak duwe konco gara-gara bahasaku aneh. Jawa tapi logat bali, jadinya ya aku ngobrolnya sama bapak-bapak tukang becak, tukang sapu. Hahaha.” Aku bayangkan seorang anak SD sedang ngobrol dengan tukang becak, hahaha, kayaknya agak ganjil juga ya.
Gaya bicaranya, prinsipnya, modelnya yang santai, ngga mau ribet kadang bikin aku ngiri juga. Kadang aku merasa agak jaim ketika sedang bersama praktikanku, jadi ngerasa tidak bisa bebas malahan. Itu berbanding dengan nya. Dia orangnya yang nggak suka alay, narsis ketika di depan cowok cakep, stay cool. Ya memang intinya aku senang berteman dengannya, dengannya aku bisa banyak belajar sedikit tentang pemikirannya yang kadang memang sering berlainan denganku. Tapi bukankah itu akan lebih memperkaya pemahamanku, juga lebih mendewasakanku. Memahami keunikan tiap orang sehingga aku bisa menyimpulkan kalau Every one is Special, mereka mempunyai sisi-sisi keunikan tersendiri yang kadang hal itu akan menjadi menarik ketika kita renungkan, sehingga kita tidak merasa benar sendiri.

Jember, 26 Oktober 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar