Jumat, 08 Februari 2013

Kisah Kuliah. Part 1

Tidak terasa sudah hampir 4 tahun aku kuliah di Fakultas Pertanian ini. Banyak kejadian pastinya yang aku alami selama 6 semester menjalani perkuliahan di kampus yang terkenal penuh dengan kegiatan praktikumnya. Banyak hal-hal yang menyenangkan, membuat tawaku lepas, menjengkelkan, membosankan, menggelikan, bahkan membuat kepala rasanya panas. Hahaha. Atau juga hal yang menyedihkan. Hmm. Malem ini aku mencoba untuk mengingat mozaik-mozaik yang sudah aku lewati. Dimulai dari proses kenapa aku bisa masuk di jurusan yang sebenarnya juga nggak kepikiran pas sekolah di SMA. Bisa dibilang saya terdampar di planet yang nggak saya kenal dan tidak saya rencanakan. Ok saya akan mulai mengingat memori yang sudah agak lupa juga tentang perjalanan kuliah. Dimulai dari tahap kenapa saya bisa masuk dikampus ini.   
Sekitar Juni 2009
Seperti mimpi, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan proses bisa kuliah di kampus yang berstatus negeri pula. Universitas Jember, itu nama kampusku. Sebuah proses perjuangan yang ngga mudah bagiku untuk bisa memakai almamater warna biru tua berlambang daun tembakau. Dimulai dari proses daftar ulang yang bisa dibilang hanya bermodal nekat. Hhe. Kenapa aku bisa nekat sebab saat itu aku emang bener-benar nggak mempersiapkan finansialku. Hanya bermodalkan uang sekitar 1,5 juta aku nekat untuk kuliah. Padahal saat itu untuk bisa mengikuti kuliah di kampus pertanian aku harus mengeluarkan uang sekitar 4,2 jutaan. Uang sebesar 1,5 juta yang aku pegang itu aku juga ngga tahu dari mana asalnya. Yang aku tahu ibuku memberi uang segitu apakah hasil minjem atau menjual barang dan aset keluarga aku juga ngga tahu. Oya aku inget sedikit. Ibuku menjual satu pohon kelapa seharga 400 ribuan. Cuma itu yang aku tahu. Yang 1,1 juta masih misterius. Tapi yang pasti itu hasil dari sesuatu yang halal.
Hari sebelumnya aku shilaturahmi ke guru sma ku. Pak Suhartono. Dia yang mau nganter aku untuk minta keringanan melalui seorang kenalan yang dulu juga kakak kelas saya pas SMA. Kenalan guruku ini yang notebane juga muridnya pas SMA saat itu menjabat sebagai kepala cabang sebuah perusahaaan asuransi di kota jember. Nah kenalan guruku inilah kawan yang menjadi penyebab kenapa aku bisa ambil kuliah di jurusan Agribisnis, jadi itu sebenarnya bukan murni pilihanku. Kenalan guruku ini dulunya alumni pertanian jurusan Agribisnis juga dan dia mau ngejamin aku bakal dapet beasiswa kalo aku mau masuk di Agribisnis. So intinya kuliah di Agribisnis ini awalnya bukan passionku, bukan rencana utamaku sebab rencanaku yang pertama itu aku kepingin masuk di SITH ITB. Hehe. Tapi yang pasti aku yakin kalau jalan hidupku ini sebenere sudah ditentuin sama Alloh yang maha kuasa.
Sebelum berangkat pak guruku pesan ke aku agar aku make baju yang biasa aja, jangan yang bagus soale nanti mau minta keringanan ke rektor. Aku mengiyakan saja, ngga papa juga dan bukan sesuatu yang penting masalah baju bagiku. Yang penting nyaman dan bisa ngelindungin kulitku itu sudah cukup. Ya akhirnya Bismillah, dengan membawa vespa buntut Piagio Pak Suhartono memboncengku. Ditengah jalan aku diceramahin, ditanya-tanyain tadi malem sholat tahajud ngga? dasar memang aku ngga pernah sholat tahajud ya aku bilang aja sejujurnya kalo ngga. Ya dia Cuma senyum aja. Ngga tahu apa yang ada dipikirannya pas itu. Trus dia juga cerita kalo Alloh pasti akan selalu menolong hambanya kalo hambanya mau menolong agamanya. Kalo yang ini sudah sering aku mendengar darinya.. kayake emang ini mantra andalan Pak Suhartono kalo nyeramahin aku. Hehe. ya karena prinsip ini aku berani menjabat sebagai ketua umum rohis pas waktu SMA.
Jarak 30 km yang normalnya bisa ditempuh selama 45 menitan terasa lama, sebab laju kendaraa Pak Suhartono yang juga lambat. Sekitar 1 jam an kami nyampai di depan kantor asuransi milik pak Khoiri. Setelah mengobrol berdua dengan pak Khoiri akhirnya pak Khoiri bicara ke aku kalo nanti dia yang akan menghadap ke pak rektor sebab kebetulan rekto saat itu adalah dosen pembimbing akademik pak Khoir, jadinya insya Alloh bisa minta keringanan. Kalo misal memang ngga boleh pak khoir akan meminjami uang hingga uangku mencapai 4 jutaan sehingga aku bisa kuliah di UJ. Ya aku Cuma bisa memandanginya, tatapan mataku sebenarnya memancarkan perasaan yang susah untuk diungkapin. Rasa terima kasih, ya simplenya gitu.

Aku sudah agak lupa gimana proses sehingga aku bisa memperoleh keringanan. Yang pasti saat itu aku ngga ngerasa capek, ngga ngerasa laper juga meski Cuma makan pas berangkat pagi. Maklum efek histeria sesaat akibat aku bisa kuliah. Ya akhirnya aku bisa kuliah. Setelah melalui pertimbangan aku Cuma diharuskan membayar daftar ulang sebesar 1,5 juta. Itu pun aku daftar ulangnya paling akhir, sekitar abis magrib gitu. Belum mandi, belum ganti baju, laper. Hmm. Nah tapi yang pasti saat itu seneng banget bisa kuliah juga. Seorang anak desa yang hidup dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai buruh bisa menginjak bangku kuliah. Betapa maha pemurahnya Alloh.. ^^ satu kakiku sudah memasuki gerbang kampus UJ, tinggal satu kakiku lagi. Apakah aku bisa berhasil atau menjadi pecundang, itu semua tergantung padaku sendiri. Tapi yang pasti disini aku datang bukan sebagai pecundang. Yes I am a Winner. dimanapun itu aku kuliah, that’s no problem. Yang penting aku bisa menjadi yang terbaik ditempat aku ada. (To be Continued)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar