Sabtu, 09 Februari 2013

Terdampar di Kampus Pertanian. Part 2

September, 2009
Universitas Jember, ya dikampus inilah aku akhirnya bisa kuliah. Dikampus yang berlokasi disebuah kabupaten kecil diujung pulau jawa. Tapi jangan salah, walaupun terletak di sebuah kabupaten kampusku adalah kampus negeri. Untuk ukuran kampus di Indonesia kampusku juga termasuk kampus tua. Berdiri sejak tahun 1957 an. Aku masuk dijurusan yang sebenernya nggak ada bayangan aku bisa masuk sana. Jurusan baru yang asalnya bernama jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, tapi udah mengalami perubahan kurikulum menjadi Program Studi Agribisnis. Yah, tapi tetep aja itu nggak ada hubungannya sama keinginan awalku. Aku kepingin kuliah di Teknik Geologi ITB. Malah masuk di Pertanian. Tapi aku sudah terlanjur masuk, ngga ada istilah salah jurusan dikepalaku. Semuanya sudah ditentuin oleh tuhan, jadi kalo saya kuliah keterima di Agribisnis ini bukan kebetulan namun ada campur tangan Tuhan disana. Tapi tetep saja passion ku belum terbentuk di jurusan ini. Aku perlu adaptasi ulang untuk masuk didunia Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia.

Ya, bisa dibilang masa-masa tahun pertama dikampus pertanian adalah masa-masa galau. Masa-masa penuh keraguan apakah ini sesuai dengan minatku. Disisi lain aku nggak mau jalan setengah-setengah. Ya Alloh, bimbinglah hamba. Berikanlah kemantapan pada hati hamba. Aku sering sedih kalo mengingat masa-masa awal kuliah. Aku lihat materi kuliah, dan selalu saja  aku bandingin dengan kuliah di teknik. Di awal masuk aku mendapat matakuliah yang jelas ngga ada bayangan sama sekali kalo dijurusan yang IPA ada. Aku bayangin masuk di Agribisnis aku akan ngedapetin pelajaran semacam budidaya, atau tentang pemuliaaan gitu yang nggak jauh-jauh sama jurusanku di SMA. Tapi nyatanya di awal kuliah akau harus melahap diktat-diktat Pengantar Sosiologi Pertanian dan Pedesaan, Pengantar Ilmu Ekonomi, Ilmu Usahatani, Dasar-Dasar Manajemen. Waduh, apa-apaan ini. Ini ngga ada hubungannya blas. Ya karena  udah terlanjur keceh ya tanggung kalo aku ngga nyemplung sekalian. Ditambah dorongan dari temen-temen seperjuangan pas SMA untuk masuk ITB agar aku ikut tes lagi ditahun mendatang, itu semua membikinku tambah galau. Ya akhirnya aku antisipasi aku ngropel untuk belajar. Aku belajar materi-materi kuliah, aku juga belajar materi-materi SNMPTN seperti Kimia, Biologi, Matematika, Fisika, B inggris. Dan B indo. Aku berjuang habis-habisan di tahun pertama ini, jadinya aku ngga begitu konsen untuk ikut banyak organisasi. Di awal ini aku cuma bergabung dengan organisasi kerohanian islam (UKI) di tingkat fakultas serta himpunan mahasiswa jurusan. Aku gabung di organisasi kerohanian islam bukannya aku itu anak yang alim gitu. Bukan, sebab memang basicku sejak SMA ya di rohis ini. Pas SMA aku pernah ngejabat menjadi ketua Rohis gitu.

Perjuangan yang memang sudah berat itu bertambah semakin berat ketika aku mencoba untuk bekerja sambilan menjadi operator pengisian pulsa all operator. Ya sebagai tambahan uang saku soalnya saat itu aku belum mendapat beasiswa. Aku dateng dari kampus kadang jam 12 kadang jam 3 sore. Sampe rumah kos aku harus membersihkan halaman, menyiram bunga-bunga lalu mandi. Jam 4 sore aku harus sampai ditempat kerja hingga jam 10 malem. Ya ditempat kerja itulah aku belajar, mengulangi materi-materi kuliah yang aku dapet, browsing buat mencari tambahan materi. Aku menerima kerja disitu soalnya disitu ada fasilitas internet yang bisa aku pakai untuk ngerjain tugas dan mencari tamabahan materi. Sampe rumah kosan aku udah bener-benar capek. Ya wajarlah sebagai mahasiswa yang berasal dari golongan bawah untuk bisa kuliah memang ini konsekuensi yang mesti aku dapet. Istilah kuliah itu santai, bisa heppy-heppy, mencari gebetan gitu udah nggak ada dibayangan benakku. Yang ada dalam kamusku saat itu Cuma satu. Struggle, struggle, dan struggle.

Perjuangan yang aku lakuin selama semester pertama terbayarkan pas aku menerima hasil ujian. Alhamdulillah ya Rabb, IP ku cumlaude. 3,85. Syukur alhamdulillah. Aku ngga tahu pas itu gimana responku. Yang aku inget aku sangat seneng, terlampau seneng malahan. Dengan IP segitu aku bisa mengajukan beasiswa itu artinya kalo sudah mendapat beasiswa ngga perlu lagi aku bekerja di konter. Saat pembukaan beasiswa PPA ditempel langsung saja aku mendaftarkannya. Sekitar 3 bulanan menunggu akhirnya keluar juga namaku sebagai penerima beasiswa PPA itu. Aku inget besar uang beasiswa yang pertama aku peroleh. Saat itu besar beasiswa PPA masih 250 ribu rupiah perbulan. Sehingga dalam satu tahun aku ngedapet Rp 3 juta. Itu sudah cukup untuk membayar biaya kuliah. Setahun biaya SPP yang aku keluarin sebesar 1,5 juta sehingga masih sisa 1,5 juta. Dengan uang segitu ngga mungkin lah aku hidup mewah. Yang ada aku mesti hidup dengan super ngirit, sampek kadang menjurus ke hidup prihatin. Untuk biaya makan dan tinggal ngga perlu aku mengeluarkan biaya sebab ibu kosku membebaskanku buat ngebayar uang itu. Hehe.. jadi ceritanya ibu kosan ini Cuma kepingin aku ngerawat rumahnya, nyiramin bunganya serta bersih-bersih gitu. Lalu aku bebas untuk tinggal dan bebas ngeluarin uang makan. Alhamdulilah, sebuah pengiritan ini namanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar