September,
2009
Universitas Jember, ya dikampus inilah aku
akhirnya bisa kuliah. Dikampus yang berlokasi disebuah kabupaten kecil diujung
pulau jawa. Tapi jangan salah, walaupun terletak di sebuah kabupaten
kampusku adalah kampus negeri. Untuk ukuran kampus di Indonesia kampusku juga
termasuk kampus tua. Berdiri sejak tahun 1957 an. Aku masuk dijurusan yang
sebenernya nggak ada bayangan aku bisa masuk sana. Jurusan baru yang asalnya
bernama jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, tapi udah mengalami perubahan kurikulum
menjadi Program Studi Agribisnis. Yah, tapi tetep aja itu nggak ada hubungannya
sama keinginan awalku. Aku kepingin kuliah di Teknik Geologi ITB. Malah masuk
di Pertanian. Tapi aku sudah terlanjur masuk, ngga ada istilah salah jurusan
dikepalaku. Semuanya sudah ditentuin oleh tuhan, jadi kalo saya kuliah keterima
di Agribisnis ini bukan kebetulan namun ada campur tangan Tuhan disana. Tapi
tetep saja passion ku belum terbentuk di jurusan ini.
Aku perlu adaptasi ulang untuk masuk didunia Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia.
Ya, bisa dibilang masa-masa tahun pertama
dikampus pertanian adalah masa-masa galau. Masa-masa penuh keraguan apakah ini
sesuai dengan minatku. Disisi lain aku nggak mau jalan setengah-setengah. Ya
Alloh, bimbinglah hamba. Berikanlah kemantapan pada hati hamba. Aku sering
sedih kalo mengingat masa-masa awal kuliah. Aku lihat materi kuliah, dan selalu
saja aku bandingin dengan kuliah di
teknik. Di awal masuk aku mendapat matakuliah yang jelas ngga ada bayangan sama
sekali kalo dijurusan yang IPA ada. Aku bayangin masuk di Agribisnis aku
akan ngedapetin pelajaran semacam budidaya, atau tentang pemuliaaan gitu yang
nggak jauh-jauh sama jurusanku di SMA. Tapi nyatanya di awal kuliah akau harus
melahap diktat-diktat Pengantar Sosiologi Pertanian dan Pedesaan, Pengantar
Ilmu Ekonomi, Ilmu Usahatani, Dasar-Dasar Manajemen. Waduh, apa-apaan ini. Ini
ngga ada hubungannya blas. Ya karena udah
terlanjur keceh ya tanggung kalo aku
ngga nyemplung sekalian. Ditambah dorongan dari temen-temen seperjuangan pas
SMA untuk masuk ITB agar aku ikut tes lagi ditahun mendatang, itu semua
membikinku tambah galau. Ya akhirnya aku antisipasi aku ngropel untuk belajar.
Aku belajar materi-materi kuliah, aku juga belajar materi-materi SNMPTN seperti
Kimia, Biologi, Matematika, Fisika, B inggris. Dan B indo. Aku berjuang
habis-habisan di tahun pertama ini, jadinya aku ngga begitu konsen untuk ikut
banyak organisasi. Di awal ini aku cuma bergabung dengan organisasi
kerohanian islam (UKI) di tingkat fakultas serta himpunan mahasiswa jurusan.
Aku gabung di organisasi kerohanian islam bukannya aku itu anak yang alim gitu.
Bukan, sebab memang basicku sejak SMA ya di rohis ini. Pas SMA aku pernah
ngejabat menjadi ketua Rohis gitu.
Perjuangan yang memang sudah berat
itu bertambah semakin berat ketika aku mencoba untuk bekerja sambilan menjadi
operator pengisian pulsa all operator. Ya sebagai tambahan uang saku soalnya
saat itu aku belum mendapat beasiswa. Aku dateng dari kampus kadang jam 12
kadang jam 3 sore. Sampe rumah kos aku harus membersihkan halaman, menyiram
bunga-bunga lalu mandi. Jam 4 sore aku harus sampai ditempat kerja hingga jam
10 malem. Ya ditempat kerja itulah aku belajar, mengulangi materi-materi kuliah
yang aku dapet, browsing buat mencari tambahan materi. Aku menerima kerja
disitu soalnya disitu ada fasilitas internet yang bisa aku pakai untuk ngerjain
tugas dan mencari tamabahan materi. Sampe rumah kosan aku udah bener-benar
capek. Ya wajarlah sebagai mahasiswa yang berasal dari golongan bawah untuk
bisa kuliah memang ini konsekuensi yang mesti aku dapet. Istilah kuliah itu
santai, bisa heppy-heppy, mencari gebetan gitu udah nggak ada dibayangan
benakku. Yang ada dalam kamusku saat itu Cuma satu. Struggle, struggle, dan struggle.
Perjuangan
yang aku lakuin selama semester pertama terbayarkan pas aku menerima hasil
ujian. Alhamdulillah ya Rabb, IP ku cumlaude. 3,85. Syukur alhamdulillah. Aku
ngga tahu pas itu gimana responku. Yang aku inget aku sangat seneng, terlampau
seneng malahan. Dengan IP segitu aku bisa mengajukan beasiswa itu artinya kalo
sudah mendapat beasiswa ngga perlu lagi aku bekerja di konter. Saat pembukaan
beasiswa PPA ditempel langsung saja aku mendaftarkannya. Sekitar 3 bulanan menunggu
akhirnya keluar juga namaku sebagai penerima beasiswa PPA itu. Aku inget besar
uang beasiswa yang pertama aku peroleh. Saat itu besar beasiswa PPA masih 250
ribu rupiah perbulan. Sehingga dalam satu tahun aku ngedapet Rp 3 juta. Itu
sudah cukup untuk membayar biaya kuliah. Setahun biaya SPP yang aku keluarin
sebesar 1,5 juta sehingga masih sisa 1,5 juta. Dengan uang segitu ngga mungkin
lah aku hidup mewah. Yang ada aku mesti hidup dengan super ngirit, sampek
kadang menjurus ke hidup prihatin. Untuk biaya makan dan tinggal ngga perlu aku
mengeluarkan biaya sebab ibu kosku membebaskanku buat ngebayar uang itu. Hehe..
jadi ceritanya ibu kosan ini Cuma kepingin aku ngerawat rumahnya, nyiramin
bunganya serta bersih-bersih gitu. Lalu aku bebas untuk tinggal dan bebas
ngeluarin uang makan. Alhamdulilah, sebuah pengiritan ini namanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar