Kamis, 07 Februari 2013

Harapan Palsu



Harapan, itulah satu hal yang saat ini sedang saya pikirkan. Ya, memang kita tidak dilarang untuk berharap. Namun ketika kita berharap pada suatu hal ya siap-siap saja untuk kecewa ketika harapan itu tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Ketika harapan yang sudah mewarnai imajinasi kita itu melesat ya pastinya kita akan merasa kecewa. Sangat kecewa, apalagi ketika harapan itu berkaitan dengan masalah hati. Memang kalau sudah menyentuh hati tidak ada sesuatu yang bisa dianggap remeh, soalnya dampak yang ditimbulkannya. Memang akan terasa indah ketika apa yang kita harapkan itu benar-benar terjadi. Seakan kita merasakan nikmatnya duren matang pohon. Haha. Bahkan bisa lebih dari itu. Soalnya memang kita akan merasa sangat gembira, hingga melayang saking keenakan.

Saya pernah merasakan kecewa akibat harapan yang terlalu tinggi yang tidak sesuai dengan kenyataan dua kali. Pertama harapan yang berkaitan dengan kebutuhan yang bersifat benda. Kedua, (ini yang paling besar dampaknya) berkaitan dengan masalah cewek. Memang kedengarannya klise teman. Namun sesuatu yang klise itu akan berbeda ketika kita mampu meramunya dengan baik. Pertama yang berkaitan dengan benda. Kejadian ini bermula ketika salah satu saudara saya berkeinginan untuk membelikan laptop baru ketik saya sedang butuh banget. Ketika itu saya sangat berharap pada saudara. Namun kenyataannya tidak sesuai sama sekali dengan keinginan saya. Dengan alasan yang kedengaran dibuat-buat saudara saya mangkir dari janjinya. Ya, kecewa banget pokoknya ketika saya tahu kalau saudara saya mengingkari janjinya. 

Memang saya juga salah sebenarnya kenapa harus percaya begitu saja dengan saudara saya. Seharusnya saya harus tahu dirilah, kan saya cuma saudara sepupu saja. Kejadian tidak enak yang membuat saya sempat drop untuk kedua kalinya terjadi ketika saya terlalu berharap terhadap mantan adek kelas SMA saya. Ya sama dengan kasus pertama namun yang membedakannya yaitu dampak yang ditimbulkan untuk yang kedua ini lebih besar. Ya, saya sudah terlanjur percaya dan menaruh perasaan saya padanya. Namun ternyata ya sudah bisa ditebak. Gagal maning pokoknya. Perasaan saya yang sudah terlanjur ada ke adek kelas saya itu terpaksa harus saya hilangkan. Adik kelas saya yang awalnya meminta saya untuk suka ke dia ketika perasaan saya masih normal mendadak menghindar ketika saya sudah terlanjur suka padanya. Kecewa, pasti lah. Hancur ia, nyesek juga. Haha. Namun mau bagaimana lagi dunia harus tetap berjalan. Saya ikhlaskan saja kejadian ini dan saya juga berharap nantinya saya bisa memperoleh pengganti yang lebih mengerti tentang saya. Saran saya janganlah terlalu berharap pada seseorang, sebab ketika kita sudah terlanjur menggantungkan perasaan kita alias harapan kita kita juga harus siap-siap untuk kecewa ketika harapan itu cuma kosong atau cuma sekedar pepesan kosong.

Jember, 10 November 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar