Aku terbangun mendengar lagu-lagu yang keluar dari mulut mungilnya, merdu sekali suaranya. Suara yang indah itu selalu membangunkan tidur soreku. Ngga tahu kenapa walaupun suaranya aneh tapi bagiku itu terkesan sangat manis. This sound make me addicted, yeah. Ada rasa ketagihan untuk mendengar suaranya ketika sehari itu aku belum mendengarkannya. Semacam nikotin yang membawa ketagihan bagi penikmatnya, begitu juga denganku. Dari kamar kos ku rumah gadis kecil itu sebenarnya bergandengan, dan aku selalu bisa melihat kelincahannya ketika bergerak, melompat-lompat, ketika memberi makan ikan kecil di kolamnya. Namun aku cuma bisa memandanginya tiap hari dari jendela kaca kamarku. Ya, cuma memandangunya tanpa ada keberanian untuk sekedar menyapanya.
Dia masih suci, umurnya saat itu aku taksir sekitar 13 tahunan. Mungkin saja dia masih kelas 1 SMP. Sering aku melihatnya diantar berangkat oleh ibunya. Dan ia selalu kelihatan bermanja ria. Manis sekali wajahnya, putih pipinya. Dan aku selalu melihatnya ketika pagi datang ketika ramai lalu lintas depan kos orang berangkat kerja. Dan dia selalu diam merunduk ketika lewat didepanku. Manis sekali memang.
Gadis kecilku memang nampak semakin cantik dengan balutan jilbab putihnya. Jilbab itu menutupi kejelekan serta pandangan fitnah dari orang-orang yang memang berakhlak kurang. Tetap saja aku yang mengaguminya ini diam, hanya bisa mengagumi dalam diam. Dan itu cukup bagiku cukup.
Hari berganti, lagu-lagu riang itu masih saja menghiasi hariku. Di saat pagi dan sore. Seperti alarm, yang selalu mengingatkan waktu bagiku. Dan gadis kecilku juga semakin beranjak besar. Dia semakin angggun, namun dia masih tetap nampak lucu di mataku. Sesekali aku mencuri pandang darinya, mengaguminya ketika dia berseragam sekolah saat hendak berangkat. Tetap saja aku yang nampak berharap untuk mengenalnya ini dalam diam. Berharap tuhan berikan keberanian untuk mengenalnya, menyapanya. Ya sekedar untuk mengetahui namanya saja, tidak terlalu jauh. Terlalu naif kalau aku terlalu berharap pada gadis kecilku untuk menyapaku duluan, seharusnya aku yang lebih tua darinya ini yang memulai. Gadis kecilku pasti malu, untuk sekedar memandangku saja dia tidak berani. Mungkin dia merasa segan juga sebab aku lebih dewasa darinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar