Apa yang teman-teman ingat ketika saya menyebut kata Bromo. Sunrise, Pasir Berbisik, bukit teletubhies, kawah bromo. Benar sekali. Seratus buat teman-teman semua. Memang ketika kita mendengar kata Bromo hal-hal itulah yang akan terlintas di benak kita. Kemashuran Gunung Bromo dengan kawahnya tampaknya merupakan salah satu keajaiban Alloh yang pastinya akan sangat rugi jika kita tidak mencoba untuk menikmatinya. Nah, saya sangat beruntung sekali bisa menjadi salah satu orang dari jutaan orang yang telah melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana indahnya bromo di waktu pagi. Ya, benar sekali. Sunrise atau peristiwa terbitnya matahari yang menandai pergantian hari.
Kebetulan hari Rabu, 26 Desember 2012 saya berkesampatan untuk mengunjungi gunung bromo untuk pertama kali. The moment first destination yang sangat saya mimpikan ini secara tidak sengaja bisa terwujud. Ya, ini merupakan suatu keberuntungan yang besar bagi saya. Kebetulan sepupu saya dari Bali bershilaturahmi ke rumah saya di jember. Rencananya mereka mau melanjutkan perjalanan ke Bromo dan Batu. Woo, bromo. Saya sangat senang sekali apalagi ketika sepupu saya itu memaksa saya untuk ikut bergabung dengan rombongan. Pikir saya meski tanpa di paksa pun saya akan sangat senang untuk bergabung.
Dengan kendaraan pribadi saya dan sepupu saya beserta keluarganya menuju ke bromo. Perjalanan dari Jember sampai ke Bromo memakan waktu sekitar 4 jam an soalnya belum ada yang pernah kesana. Jadi kami intinya Cuma berbekal ilmu feeling dan sedikit kenekatan saja dan tanya sana sini ke orang-orang yang kami temui di jalan. Sampai di Sukapura jam sudah menunjuk pukul 7.30 an. Perut yang keroncongan akibat belum makan siang membuat kami mampir di warung lesehan setelah terminal Sukapura. Nah di terminal inilah rombongan bus-bus yang membawa wisatawan berhenti. Setelah itu pengunjung harus berpindah menyewa Hardtop untuk sampai ke batas akhir sebelum naik ke penanjakan 1.
Saya agak nyesel sebenarnya makan di lesehan yang terletak setelah terminal. Rasa masakannya kurang masuk menurut lidah saya. Rasa nasi gorengnya kurang nendang dan saya pikir lebih enak nasi goreng buatan saya sendiri. Hehe. Tambah lagi harganya yang mencekik kantong sangat memberatkan buat seorang traveler dengan budget minim seperti saya. Seporsi nasi goreng yang katanya spesial di hargai 15 ribu rupiah. Hmm. Lumayan mencekik harganya. Karena dasar memang sudah lapar ya terpaksa saya sedikit berkorban untuk menukar uang yang saya punya dengan seporsi nasi goreng itu. Selesai makan saya iseng tanya-tanya ke penjual aksesories untuk naik ke pananjakan.”Mas, kalo saya nggak make tutup kepala, syal dan sarung tangan emang kenapa mas..?”. tanyaku ke salah satu penjual. “ya ngga papa mas, Cuma saya khawatir saja mas, lha suhunya mencapai 4 derajat koq. “ waduh. Akhirnya saya pun membeli seperangkat aksesoris itu. Setelah sedikit menawar akhirnya saya bisa mendapatkan tutup kepala dan sarung tangan seharga 15 ribu. Hehe. Ini sudah murah menurutku. Sebab setelah itu saya tidak bisa membeli lagi lagi dengan harga segitu, soalnya ketika saya membeli dengan harga 15 ribu itu saya adalah pembeli pertama. Bisa dibilang harga penglaris lah.
Untuk kendaraan ke bromo kami menyewa hardtop dengan harga 850 ribu untuk satu hari. Satu hardtop bisa disi dengan 8 orang. Jadi kami patungan. Masing-masing orang membayar 106 ribu. Harga segitu sebenarnya bisa lebih murah seandainya saya menyewa di waktu hari biasa bukan liburan seperti sekarang. Kebetulan pas saya ke bromo bertepatan dengan libur natal, libur sekolah dan juga tahun baru. Jadi banyak sekali wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang kesana. Selesai makan sambil menunggu kendaraan hardtop yang mau mengangkut rombongan saya ke bromo saya berbaur dengan pemuda yang ada di sekitar tempat parkir mobil. Kebetulan pas saya sedang sholat di sebuah masjid sekelompok pemuda di sana sedang latihan rebana. Nah, sambil mengisi waktu malam itu saya ikut bergabung dengan mereka main rebana. Saya sempat juga kenalan dengan salah seorang dari mereka. Orang yang mengaku bernama johan itu menawari saya untuk singgah di rumahnya kalo saya pergi ke bromo lagi. Dan si johan itu juga memberikan nomor telponnya ke saya.
Malem itu saya tidak bisa tidur karena memang tidak menyewa villa. Saya mencoba tidur di kursi bambu milik seorang ibu-ibu penujual gorengan, namun upaya saya gagal karena sekelompok bapak-bapak datang dan saya tidak bisa menyelonjorkan kaki. Hahaha. Akhirnya mau tidak mau saya begadang dengan bapak-bapak tersebut. Mengobrol macam-macam mulai dari masalah bromo hingga hal-hal ngga penting bagi saya. Sebelum berangkat saya menyempatkan mengisi perut dengan semangkuk mie goreng seharga 3000 rupiah. Ya lumayan buat mengisi perut. Sekitar jam tiga pagi hardtop yang akan mengangkut rombongan sudah siap berjejer di jalan menuju ke bromo. Langsung saja saya melompat naik membawa perbekalan seadanya. Tutup kepala, sarung tangan, kain sarung dan juga jaket tebal warna putih. Jalanan yang menanjak untuk menuju ke Bromo memaksa beberapa mobil mogok di tengah jalan. Sesekali saya melihat mobil yang berhenti di tengah jalan. Jalanan yang menanjak, memutar, naik, turun memaksa perut saya bergunjang akibat baru disi makanan.
Setelah 30 menit perjalanan naik turun memutar, menikung tajam cukup membuat perut ini terasa mual. Hehe. Ditambah cuaca dingin khas pegunungan. “pak, masih jauh perjalanannya”. Tanyaku nggak sabar. Perut ini rasanya sudah sangat panas mual sekali pokoknya. Akhirnya setelah sampai langsung saja saya keluarka semangkuk mie yang baru masuk keluar. Ya, perjalanan yang sangat tidak nyaman ini sukses membuatku mabuk untuk pertama kalinya sejak SMA. Hehe. Saya masuk angin. Haha. Sampai di sekitar jalur penanjakan 1 sudah banyak hardtop dan motor-motor yang terparkir. Jalanan sudah penuh dilewati wisatawan baik lokal maupun manca negara. Beberapa tukang ojek menawari pengunjung yang baru datang. “Ayo mas, 5 ribu satu orang, jaraknya jauh loh, 2 km”. Saya bergeming. Bagiku lebih asyik itu dengan berjalan kaki menuju puncak penanjakan 1. Ternyata perjalanan yang saya bayangkan akan jauh untuk menuju puncak tidak terbukti. Sepeda motor yang membawa pengunjung hanya bisa berhenti sebelum tangga. Artinya jarak 2 km yang dikatakan oleh tukang ojek itu Cuma bohong, strategi pemasaran. Hahaha. Jaraknya hanya sekitar 1 km kurang saya rasa.
Saya pun naik ke penanjakan 1 ditemani ponakan. Sebelum sampai saya sempatkan sholat shubuh di dekat puncak. Disitu ada jasa penjualan air untuk wudhu. Untuk sekali wudhu saya perlu membayar 2000 rupiah. Setelah sholat pikiran terasa fresh lagi. Kemudian mulailah saya menanti moment-moment sunrise itu. Diawali dengan semburat cahaya fajar yang mulai nampak di sebelah langit timur. Kemudian sedikit demi sedikit mulai nampak deretan gunung-gunung disekitar bromo. Kabut tebal yang menyelimuti pepohonan yang kelihatan dari puncak penanjakan sangat menrik bagiku. Saya teringat pengalaman ketika masih MI. Saat itu saya juga sangat gemar naik gunung. Gunung Manggar namanya. Nampaknya suasana pagi di puncak penanjakan ini mengingatkanku akan moment ini. Kilatan-kilatan cahaya dari berbagai jenis kamera berlomba untuk mengkap moment ini. Subhanaloh deh pokoknya. Meski cuaca agak berawan namun itu tidak mengurangi keindahan sunrise di puncak penanjakan 1. Sangat susah bagi saya untuk melukiskan sunrise di Bromo dengan kata-kata. Cukup pembaca datang sendiri kesana, menikmatinya, kemudian memasukkan moment itu ke hati. Terbersit keinginan saya untuk datang kembali ke Bromo, sebab saat ini sunrise yang nampak bukanlah sunrise terbaik sebab masih ada beberapa awan yang menutupinya. Dan Insya Alloh saya akan kembali entah itu kapan dan dengan siapa pula. Yang pasti perjalanan saya yang cukup berat ini serasa terbayar dengan melihat salah satu potongan surga di dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar