Sabtu, 09 Februari 2013

Terdampar di Kampus Pertanian. Part 2

September, 2009
Universitas Jember, ya dikampus inilah aku akhirnya bisa kuliah. Dikampus yang berlokasi disebuah kabupaten kecil diujung pulau jawa. Tapi jangan salah, walaupun terletak di sebuah kabupaten kampusku adalah kampus negeri. Untuk ukuran kampus di Indonesia kampusku juga termasuk kampus tua. Berdiri sejak tahun 1957 an. Aku masuk dijurusan yang sebenernya nggak ada bayangan aku bisa masuk sana. Jurusan baru yang asalnya bernama jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, tapi udah mengalami perubahan kurikulum menjadi Program Studi Agribisnis. Yah, tapi tetep aja itu nggak ada hubungannya sama keinginan awalku. Aku kepingin kuliah di Teknik Geologi ITB. Malah masuk di Pertanian. Tapi aku sudah terlanjur masuk, ngga ada istilah salah jurusan dikepalaku. Semuanya sudah ditentuin oleh tuhan, jadi kalo saya kuliah keterima di Agribisnis ini bukan kebetulan namun ada campur tangan Tuhan disana. Tapi tetep saja passion ku belum terbentuk di jurusan ini. Aku perlu adaptasi ulang untuk masuk didunia Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia.

Ya, bisa dibilang masa-masa tahun pertama dikampus pertanian adalah masa-masa galau. Masa-masa penuh keraguan apakah ini sesuai dengan minatku. Disisi lain aku nggak mau jalan setengah-setengah. Ya Alloh, bimbinglah hamba. Berikanlah kemantapan pada hati hamba. Aku sering sedih kalo mengingat masa-masa awal kuliah. Aku lihat materi kuliah, dan selalu saja  aku bandingin dengan kuliah di teknik. Di awal masuk aku mendapat matakuliah yang jelas ngga ada bayangan sama sekali kalo dijurusan yang IPA ada. Aku bayangin masuk di Agribisnis aku akan ngedapetin pelajaran semacam budidaya, atau tentang pemuliaaan gitu yang nggak jauh-jauh sama jurusanku di SMA. Tapi nyatanya di awal kuliah akau harus melahap diktat-diktat Pengantar Sosiologi Pertanian dan Pedesaan, Pengantar Ilmu Ekonomi, Ilmu Usahatani, Dasar-Dasar Manajemen. Waduh, apa-apaan ini. Ini ngga ada hubungannya blas. Ya karena  udah terlanjur keceh ya tanggung kalo aku ngga nyemplung sekalian. Ditambah dorongan dari temen-temen seperjuangan pas SMA untuk masuk ITB agar aku ikut tes lagi ditahun mendatang, itu semua membikinku tambah galau. Ya akhirnya aku antisipasi aku ngropel untuk belajar. Aku belajar materi-materi kuliah, aku juga belajar materi-materi SNMPTN seperti Kimia, Biologi, Matematika, Fisika, B inggris. Dan B indo. Aku berjuang habis-habisan di tahun pertama ini, jadinya aku ngga begitu konsen untuk ikut banyak organisasi. Di awal ini aku cuma bergabung dengan organisasi kerohanian islam (UKI) di tingkat fakultas serta himpunan mahasiswa jurusan. Aku gabung di organisasi kerohanian islam bukannya aku itu anak yang alim gitu. Bukan, sebab memang basicku sejak SMA ya di rohis ini. Pas SMA aku pernah ngejabat menjadi ketua Rohis gitu.

Perjuangan yang memang sudah berat itu bertambah semakin berat ketika aku mencoba untuk bekerja sambilan menjadi operator pengisian pulsa all operator. Ya sebagai tambahan uang saku soalnya saat itu aku belum mendapat beasiswa. Aku dateng dari kampus kadang jam 12 kadang jam 3 sore. Sampe rumah kos aku harus membersihkan halaman, menyiram bunga-bunga lalu mandi. Jam 4 sore aku harus sampai ditempat kerja hingga jam 10 malem. Ya ditempat kerja itulah aku belajar, mengulangi materi-materi kuliah yang aku dapet, browsing buat mencari tambahan materi. Aku menerima kerja disitu soalnya disitu ada fasilitas internet yang bisa aku pakai untuk ngerjain tugas dan mencari tamabahan materi. Sampe rumah kosan aku udah bener-benar capek. Ya wajarlah sebagai mahasiswa yang berasal dari golongan bawah untuk bisa kuliah memang ini konsekuensi yang mesti aku dapet. Istilah kuliah itu santai, bisa heppy-heppy, mencari gebetan gitu udah nggak ada dibayangan benakku. Yang ada dalam kamusku saat itu Cuma satu. Struggle, struggle, dan struggle.

Perjuangan yang aku lakuin selama semester pertama terbayarkan pas aku menerima hasil ujian. Alhamdulillah ya Rabb, IP ku cumlaude. 3,85. Syukur alhamdulillah. Aku ngga tahu pas itu gimana responku. Yang aku inget aku sangat seneng, terlampau seneng malahan. Dengan IP segitu aku bisa mengajukan beasiswa itu artinya kalo sudah mendapat beasiswa ngga perlu lagi aku bekerja di konter. Saat pembukaan beasiswa PPA ditempel langsung saja aku mendaftarkannya. Sekitar 3 bulanan menunggu akhirnya keluar juga namaku sebagai penerima beasiswa PPA itu. Aku inget besar uang beasiswa yang pertama aku peroleh. Saat itu besar beasiswa PPA masih 250 ribu rupiah perbulan. Sehingga dalam satu tahun aku ngedapet Rp 3 juta. Itu sudah cukup untuk membayar biaya kuliah. Setahun biaya SPP yang aku keluarin sebesar 1,5 juta sehingga masih sisa 1,5 juta. Dengan uang segitu ngga mungkin lah aku hidup mewah. Yang ada aku mesti hidup dengan super ngirit, sampek kadang menjurus ke hidup prihatin. Untuk biaya makan dan tinggal ngga perlu aku mengeluarkan biaya sebab ibu kosku membebaskanku buat ngebayar uang itu. Hehe.. jadi ceritanya ibu kosan ini Cuma kepingin aku ngerawat rumahnya, nyiramin bunganya serta bersih-bersih gitu. Lalu aku bebas untuk tinggal dan bebas ngeluarin uang makan. Alhamdulilah, sebuah pengiritan ini namanya.

Jumat, 08 Februari 2013

Balikan Lagi Deh


Setelah sempat pindah alamat blog akhirnya gue mutusin kembali ke blog pertama gue. ya inilah blog pertama yang gue buat gara-gara aku suka pada seorang bloger. sebelum memakai blog ini blogku beralamat di imuss.wordpress.com. Akhirnya setelah sempet mikir bentar gue mutusin untuk kembali ke blog pertama gue di sini. imammustain.blogspot.com So buat temen2 yang memang kepingin melihat perjalanan hidup gue tongkrongin deh blog ini. Selamat browsing ^^

Kisah Kuliah. Part 1

Tidak terasa sudah hampir 4 tahun aku kuliah di Fakultas Pertanian ini. Banyak kejadian pastinya yang aku alami selama 6 semester menjalani perkuliahan di kampus yang terkenal penuh dengan kegiatan praktikumnya. Banyak hal-hal yang menyenangkan, membuat tawaku lepas, menjengkelkan, membosankan, menggelikan, bahkan membuat kepala rasanya panas. Hahaha. Atau juga hal yang menyedihkan. Hmm. Malem ini aku mencoba untuk mengingat mozaik-mozaik yang sudah aku lewati. Dimulai dari proses kenapa aku bisa masuk di jurusan yang sebenarnya juga nggak kepikiran pas sekolah di SMA. Bisa dibilang saya terdampar di planet yang nggak saya kenal dan tidak saya rencanakan. Ok saya akan mulai mengingat memori yang sudah agak lupa juga tentang perjalanan kuliah. Dimulai dari tahap kenapa saya bisa masuk dikampus ini.   
Sekitar Juni 2009
Seperti mimpi, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan proses bisa kuliah di kampus yang berstatus negeri pula. Universitas Jember, itu nama kampusku. Sebuah proses perjuangan yang ngga mudah bagiku untuk bisa memakai almamater warna biru tua berlambang daun tembakau. Dimulai dari proses daftar ulang yang bisa dibilang hanya bermodal nekat. Hhe. Kenapa aku bisa nekat sebab saat itu aku emang bener-benar nggak mempersiapkan finansialku. Hanya bermodalkan uang sekitar 1,5 juta aku nekat untuk kuliah. Padahal saat itu untuk bisa mengikuti kuliah di kampus pertanian aku harus mengeluarkan uang sekitar 4,2 jutaan. Uang sebesar 1,5 juta yang aku pegang itu aku juga ngga tahu dari mana asalnya. Yang aku tahu ibuku memberi uang segitu apakah hasil minjem atau menjual barang dan aset keluarga aku juga ngga tahu. Oya aku inget sedikit. Ibuku menjual satu pohon kelapa seharga 400 ribuan. Cuma itu yang aku tahu. Yang 1,1 juta masih misterius. Tapi yang pasti itu hasil dari sesuatu yang halal.
Hari sebelumnya aku shilaturahmi ke guru sma ku. Pak Suhartono. Dia yang mau nganter aku untuk minta keringanan melalui seorang kenalan yang dulu juga kakak kelas saya pas SMA. Kenalan guruku ini yang notebane juga muridnya pas SMA saat itu menjabat sebagai kepala cabang sebuah perusahaaan asuransi di kota jember. Nah kenalan guruku inilah kawan yang menjadi penyebab kenapa aku bisa ambil kuliah di jurusan Agribisnis, jadi itu sebenarnya bukan murni pilihanku. Kenalan guruku ini dulunya alumni pertanian jurusan Agribisnis juga dan dia mau ngejamin aku bakal dapet beasiswa kalo aku mau masuk di Agribisnis. So intinya kuliah di Agribisnis ini awalnya bukan passionku, bukan rencana utamaku sebab rencanaku yang pertama itu aku kepingin masuk di SITH ITB. Hehe. Tapi yang pasti aku yakin kalau jalan hidupku ini sebenere sudah ditentuin sama Alloh yang maha kuasa.
Sebelum berangkat pak guruku pesan ke aku agar aku make baju yang biasa aja, jangan yang bagus soale nanti mau minta keringanan ke rektor. Aku mengiyakan saja, ngga papa juga dan bukan sesuatu yang penting masalah baju bagiku. Yang penting nyaman dan bisa ngelindungin kulitku itu sudah cukup. Ya akhirnya Bismillah, dengan membawa vespa buntut Piagio Pak Suhartono memboncengku. Ditengah jalan aku diceramahin, ditanya-tanyain tadi malem sholat tahajud ngga? dasar memang aku ngga pernah sholat tahajud ya aku bilang aja sejujurnya kalo ngga. Ya dia Cuma senyum aja. Ngga tahu apa yang ada dipikirannya pas itu. Trus dia juga cerita kalo Alloh pasti akan selalu menolong hambanya kalo hambanya mau menolong agamanya. Kalo yang ini sudah sering aku mendengar darinya.. kayake emang ini mantra andalan Pak Suhartono kalo nyeramahin aku. Hehe. ya karena prinsip ini aku berani menjabat sebagai ketua umum rohis pas waktu SMA.
Jarak 30 km yang normalnya bisa ditempuh selama 45 menitan terasa lama, sebab laju kendaraa Pak Suhartono yang juga lambat. Sekitar 1 jam an kami nyampai di depan kantor asuransi milik pak Khoiri. Setelah mengobrol berdua dengan pak Khoiri akhirnya pak Khoiri bicara ke aku kalo nanti dia yang akan menghadap ke pak rektor sebab kebetulan rekto saat itu adalah dosen pembimbing akademik pak Khoir, jadinya insya Alloh bisa minta keringanan. Kalo misal memang ngga boleh pak khoir akan meminjami uang hingga uangku mencapai 4 jutaan sehingga aku bisa kuliah di UJ. Ya aku Cuma bisa memandanginya, tatapan mataku sebenarnya memancarkan perasaan yang susah untuk diungkapin. Rasa terima kasih, ya simplenya gitu.

Aku sudah agak lupa gimana proses sehingga aku bisa memperoleh keringanan. Yang pasti saat itu aku ngga ngerasa capek, ngga ngerasa laper juga meski Cuma makan pas berangkat pagi. Maklum efek histeria sesaat akibat aku bisa kuliah. Ya akhirnya aku bisa kuliah. Setelah melalui pertimbangan aku Cuma diharuskan membayar daftar ulang sebesar 1,5 juta. Itu pun aku daftar ulangnya paling akhir, sekitar abis magrib gitu. Belum mandi, belum ganti baju, laper. Hmm. Nah tapi yang pasti saat itu seneng banget bisa kuliah juga. Seorang anak desa yang hidup dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai buruh bisa menginjak bangku kuliah. Betapa maha pemurahnya Alloh.. ^^ satu kakiku sudah memasuki gerbang kampus UJ, tinggal satu kakiku lagi. Apakah aku bisa berhasil atau menjadi pecundang, itu semua tergantung padaku sendiri. Tapi yang pasti disini aku datang bukan sebagai pecundang. Yes I am a Winner. dimanapun itu aku kuliah, that’s no problem. Yang penting aku bisa menjadi yang terbaik ditempat aku ada. (To be Continued)


Kamis, 07 Februari 2013

Gadis Berwajah Ceria

Gadis berwajah ceria, senyumam kegembiraanya masih terbayang di benakku. Senyuman saat aku mengmbalikan barang yang ketinggalan. “Mas Imam… Mas Imam..!! “ teriaknya dengan nada manja. Dan aku pun tidak berani untuk memandang wajah itu, terlalu indah wajah itu bagiku. “Oya, ini barangmu ya, Lain kali hati-hati dek” hanya itu yang mampu keluar dari mulut ini. Bodohnya diriku, kenapa hanya ucapan itu yang mampu keluar. Lidah ini seakan kelu untuk sekedar mengucapkan kata-kata basa-basi. Langsung saja aku beranjak untuk meninggalkannya. Dan biarlah udara disekitar ini menjadi saksi pertemuan singkat ini. Lega rasanya hati ini. 

Jam kuliah berakhir, dan cuaca yang sedikit panas memaksaku untuk segera menuju kearah kamar mandi. “panas banget cuaca hari ini, guman temen sebangkuku” dan aku hanya membalas dengan senyuman. Aku lihat langit seperti menggantung siap-siap untuk menumpahkan isinya. Pantesan cuaca panas banget, mau hujan soalnya. Setelah membasuh wajah langsung saja aku beranjak untuk meninggalkan kampus, tempat dimana sebagian besar waktu dalam sehari aku habiskan. Dan terlebih lagi saat musim praktikum seperti ini. Kadangkala aku berangkat kekampus jam 6 pagi dan baru bias sampai rumah pukul 8 maleman. 

Kukayuh sepedaku meninggalkan kampus tercinta ini. Deretan pepohonan trembesi berukuran besar menemaniku di sepanjang jalan area kampus. Deretan pepohonan itu menjadikanku betah untuk kuliah di Jember ini. Dan aku bersyukur karena adanya poho-pohon itu, gak bias bayangkan kalau seandaninya pohon-pohn itu tidak ada. Disepanjang jalan, bayangan gadis berwajah ceria tersebut terus membayangiku. Membuatku merasa damai, ah indahnya pemilik wajah itu. Kukira hanya sekedar kenal saja padanya sudah cukup bagiku, dan aku tidak menuntut lebih dari itu. Tak pantas, istilahnya. “Tit.. Tit..” suara dering hapeku menyadarkan lamunanku. “ Mas imam, makasih ya.. J” isi sms itu. Ah dia lagi, memang tadi dia gak semapet untuk ngucapin terima kasih. “ sama2 dek. Bagiku melihat kamu bahagia itu sudah cukup bagiku, aku seneng tadi ngelihat kamu bahagia pas barangmu ketemu” aku ketik balesan sms untuknya. Ternyata dia masih mengingatnya. Aku sedikit seneng, waktu membaca sms itu. 

Beberapa hari setelah kejadian itu entah mengapa rasa ketertarikan itu menyergapku. Penasaran saja ingin lebih paham dengannya. Aku coba cari profilnya melalui account FB nya. Aku baca statusnya. Pokoknya aku kepingin tahu banyak tentang dia. “ gadis berwajah ceria” dan hingga saat ini aku masih merasa kalau perasaan ku ini tidak seperti biasanya. Kalau biasanya ketertarikan itu mungkin sehari dua hari hilang, namun rasa ini sepertinya awet banget ya. Dan aku hanya bias berdoa kalau memang rasa ini bagus bagiku tidak apa Tuhan (Alloh) engkau pelihara, kalau memang hal ini buruk silahkan hilangkan rasa ini. Namun aku yakin kalau perasaan ini memang membangun bagiku. Dan aku berharap untuk menjadi lebih termotivasi menjadi baik karena Nya. Gadis Berwajah Ceria.

Jember, 27 Desember 2011

Mengejar Sunrise di Bromo

Apa yang teman-teman ingat ketika saya menyebut kata Bromo. Sunrise, Pasir Berbisik, bukit teletubhies, kawah bromo. Benar sekali. Seratus buat teman-teman semua. Memang ketika kita mendengar kata Bromo hal-hal itulah yang akan terlintas di benak kita. Kemashuran Gunung Bromo dengan kawahnya tampaknya merupakan salah satu keajaiban Alloh yang pastinya akan sangat rugi jika kita tidak mencoba untuk menikmatinya. Nah, saya sangat beruntung sekali bisa menjadi salah satu orang dari jutaan orang yang telah melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana indahnya bromo di waktu pagi. Ya, benar sekali. Sunrise atau peristiwa terbitnya matahari yang menandai pergantian hari.

Kebetulan hari Rabu, 26 Desember 2012 saya berkesampatan untuk mengunjungi gunung bromo untuk pertama kali. The moment first destination yang sangat saya mimpikan ini secara tidak sengaja bisa terwujud. Ya, ini merupakan suatu keberuntungan yang besar bagi saya. Kebetulan sepupu saya dari Bali bershilaturahmi ke rumah saya di jember. Rencananya mereka mau melanjutkan perjalanan ke Bromo dan Batu. Woo, bromo. Saya sangat senang sekali apalagi ketika sepupu saya itu memaksa saya untuk ikut bergabung dengan rombongan. Pikir saya meski tanpa di paksa pun saya akan sangat senang untuk bergabung.

Dengan kendaraan pribadi saya dan sepupu saya beserta keluarganya menuju ke bromo. Perjalanan dari Jember sampai ke Bromo memakan waktu sekitar 4 jam an soalnya belum ada yang pernah kesana. Jadi kami intinya Cuma berbekal ilmu feeling dan sedikit kenekatan saja dan tanya sana sini ke orang-orang yang kami temui di jalan. Sampai di Sukapura jam sudah menunjuk pukul 7.30 an. Perut yang keroncongan akibat belum makan siang membuat kami mampir di warung lesehan setelah terminal Sukapura. Nah di terminal inilah rombongan bus-bus yang membawa wisatawan berhenti. Setelah itu pengunjung harus berpindah menyewa Hardtop untuk sampai ke batas akhir sebelum naik ke penanjakan 1.

Saya agak nyesel sebenarnya makan di lesehan yang terletak setelah terminal. Rasa masakannya kurang masuk menurut lidah saya. Rasa nasi gorengnya kurang nendang dan saya pikir lebih enak nasi goreng buatan saya sendiri. Hehe. Tambah lagi harganya yang mencekik kantong sangat memberatkan buat seorang traveler dengan budget minim seperti saya. Seporsi nasi goreng yang katanya spesial di hargai 15 ribu rupiah. Hmm. Lumayan mencekik harganya. Karena dasar memang sudah lapar ya terpaksa saya sedikit berkorban untuk menukar uang yang saya punya dengan seporsi nasi goreng itu. Selesai makan saya iseng tanya-tanya ke penjual aksesories untuk naik ke pananjakan.”Mas, kalo saya nggak make tutup kepala, syal dan sarung tangan emang kenapa mas..?”. tanyaku ke salah satu penjual. “ya ngga papa mas, Cuma saya khawatir saja mas, lha suhunya mencapai 4 derajat koq. “ waduh. Akhirnya saya pun membeli seperangkat aksesoris itu. Setelah sedikit menawar akhirnya saya bisa mendapatkan tutup kepala dan sarung tangan seharga 15 ribu. Hehe. Ini sudah murah menurutku. Sebab setelah itu saya tidak bisa membeli lagi lagi dengan harga segitu, soalnya ketika saya membeli dengan harga 15 ribu itu saya adalah pembeli pertama. Bisa dibilang harga penglaris lah.

Untuk kendaraan ke bromo kami menyewa hardtop dengan harga 850 ribu untuk satu hari. Satu hardtop bisa disi dengan 8 orang. Jadi kami patungan. Masing-masing orang membayar 106 ribu. Harga segitu sebenarnya bisa lebih murah seandainya saya menyewa di waktu hari biasa bukan liburan seperti sekarang. Kebetulan pas saya ke bromo bertepatan dengan libur natal, libur sekolah dan juga tahun baru. Jadi banyak sekali wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang kesana. Selesai makan sambil menunggu kendaraan hardtop yang mau mengangkut rombongan saya ke bromo saya berbaur dengan pemuda yang ada di sekitar tempat parkir mobil. Kebetulan pas saya sedang sholat di sebuah masjid sekelompok pemuda di sana sedang latihan rebana. Nah, sambil mengisi waktu malam itu saya ikut bergabung dengan mereka main rebana. Saya sempat juga kenalan dengan salah seorang dari mereka. Orang yang mengaku bernama johan itu menawari saya untuk singgah di rumahnya kalo saya pergi ke bromo lagi. Dan si johan itu juga memberikan nomor telponnya ke saya.

Malem itu saya tidak bisa tidur karena memang tidak menyewa villa. Saya mencoba tidur di kursi bambu milik seorang ibu-ibu penujual gorengan, namun upaya saya gagal karena sekelompok bapak-bapak datang dan saya tidak bisa menyelonjorkan kaki. Hahaha. Akhirnya mau tidak mau saya begadang dengan bapak-bapak tersebut. Mengobrol macam-macam mulai dari masalah bromo hingga hal-hal ngga penting bagi saya. Sebelum berangkat saya menyempatkan mengisi perut dengan semangkuk mie goreng seharga 3000 rupiah. Ya lumayan buat mengisi perut. Sekitar jam tiga pagi hardtop yang akan mengangkut rombongan sudah siap berjejer di jalan menuju ke bromo. Langsung saja saya melompat naik membawa perbekalan seadanya. Tutup kepala, sarung tangan, kain sarung dan juga jaket tebal warna putih. Jalanan yang menanjak untuk menuju ke Bromo memaksa beberapa mobil mogok di tengah jalan. Sesekali saya melihat mobil yang berhenti di tengah jalan. Jalanan yang menanjak, memutar, naik, turun memaksa perut saya bergunjang akibat baru disi makanan.

Setelah 30 menit perjalanan naik turun memutar, menikung tajam cukup membuat perut ini terasa mual. Hehe. Ditambah cuaca dingin khas pegunungan. “pak, masih jauh perjalanannya”. Tanyaku nggak sabar. Perut ini rasanya sudah sangat panas mual sekali pokoknya. Akhirnya setelah sampai langsung saja saya keluarka semangkuk mie yang baru masuk keluar. Ya, perjalanan yang sangat tidak nyaman ini sukses membuatku mabuk untuk pertama kalinya sejak SMA. Hehe. Saya masuk angin. Haha. Sampai di sekitar jalur penanjakan 1 sudah banyak hardtop dan motor-motor yang terparkir. Jalanan sudah penuh dilewati wisatawan baik lokal maupun manca negara. Beberapa tukang ojek menawari pengunjung yang baru datang. “Ayo mas, 5 ribu satu orang, jaraknya jauh loh, 2 km”. Saya bergeming. Bagiku lebih asyik itu dengan berjalan kaki menuju puncak penanjakan 1. Ternyata perjalanan yang saya bayangkan akan jauh untuk menuju puncak tidak terbukti. Sepeda motor yang membawa pengunjung hanya bisa berhenti sebelum tangga. Artinya jarak 2 km yang dikatakan oleh tukang ojek itu Cuma bohong, strategi pemasaran. Hahaha. Jaraknya hanya sekitar 1 km kurang saya rasa.

Saya pun naik ke penanjakan 1 ditemani ponakan. Sebelum sampai saya sempatkan sholat shubuh di dekat puncak. Disitu ada jasa penjualan air untuk wudhu. Untuk sekali wudhu saya perlu membayar 2000 rupiah. Setelah sholat pikiran terasa fresh lagi. Kemudian mulailah saya menanti moment-moment sunrise itu. Diawali dengan semburat cahaya fajar yang mulai nampak di sebelah langit timur. Kemudian sedikit demi sedikit mulai nampak deretan gunung-gunung disekitar bromo. Kabut tebal yang menyelimuti pepohonan yang kelihatan dari puncak penanjakan sangat menrik bagiku. Saya teringat pengalaman ketika masih MI. Saat itu saya juga sangat gemar naik gunung. Gunung Manggar namanya. Nampaknya suasana pagi di puncak penanjakan ini mengingatkanku akan moment ini. Kilatan-kilatan cahaya dari berbagai jenis kamera berlomba untuk mengkap moment ini. Subhanaloh deh pokoknya. Meski cuaca agak berawan namun itu tidak mengurangi keindahan sunrise di puncak penanjakan 1. Sangat susah bagi saya untuk melukiskan sunrise di Bromo dengan kata-kata. Cukup pembaca datang sendiri kesana, menikmatinya, kemudian memasukkan moment itu ke hati. Terbersit keinginan saya untuk datang kembali ke Bromo, sebab saat ini sunrise yang nampak bukanlah sunrise terbaik sebab masih ada beberapa awan yang menutupinya. Dan Insya Alloh saya akan kembali entah itu kapan dan dengan siapa pula. Yang pasti perjalanan saya yang cukup berat ini serasa terbayar dengan melihat salah satu potongan surga di dunia.

Gadis Kecilku

Aku terbangun mendengar lagu-lagu yang keluar dari mulut mungilnya, merdu sekali suaranya. Suara yang indah itu selalu membangunkan tidur soreku. Ngga tahu kenapa walaupun suaranya aneh tapi bagiku itu terkesan sangat manis. This sound make me addicted, yeah. Ada rasa ketagihan untuk mendengar suaranya ketika sehari itu aku belum mendengarkannya. Semacam nikotin yang membawa ketagihan bagi penikmatnya, begitu juga denganku. Dari kamar kos ku rumah gadis kecil itu sebenarnya bergandengan, dan aku selalu bisa melihat kelincahannya ketika bergerak, melompat-lompat, ketika memberi makan ikan kecil di kolamnya. Namun aku cuma bisa memandanginya tiap hari dari jendela kaca kamarku. Ya, cuma memandangunya tanpa ada keberanian untuk sekedar menyapanya. Dia masih suci, umurnya saat itu aku taksir sekitar 13 tahunan. Mungkin saja dia masih kelas 1 SMP. Sering aku melihatnya diantar berangkat oleh ibunya. Dan ia selalu kelihatan bermanja ria. Manis sekali wajahnya, putih pipinya. Dan aku selalu melihatnya ketika pagi datang ketika ramai lalu lintas depan kos orang berangkat kerja. Dan dia selalu diam merunduk ketika lewat didepanku. Manis sekali memang.

Gadis kecilku memang nampak semakin cantik dengan balutan jilbab putihnya. Jilbab itu menutupi kejelekan serta pandangan fitnah dari orang-orang yang memang berakhlak kurang. Tetap saja aku yang mengaguminya ini diam, hanya bisa mengagumi dalam diam. Dan itu cukup bagiku cukup. Hari berganti, lagu-lagu riang itu masih saja menghiasi hariku. Di saat pagi dan sore. Seperti alarm, yang selalu mengingatkan waktu bagiku. Dan gadis kecilku juga semakin beranjak besar. Dia semakin angggun, namun dia masih tetap nampak lucu di mataku. Sesekali aku mencuri pandang darinya, mengaguminya ketika dia berseragam sekolah saat hendak berangkat. Tetap saja aku yang nampak berharap untuk mengenalnya ini dalam diam. Berharap tuhan berikan keberanian untuk mengenalnya, menyapanya. Ya sekedar untuk mengetahui namanya saja, tidak terlalu jauh. Terlalu naif kalau aku terlalu berharap pada gadis kecilku untuk menyapaku duluan, seharusnya aku yang lebih tua darinya ini yang memulai. Gadis kecilku pasti malu, untuk sekedar memandangku saja dia tidak berani. Mungkin dia merasa segan juga sebab aku lebih dewasa darinya.

Harapan Palsu



Harapan, itulah satu hal yang saat ini sedang saya pikirkan. Ya, memang kita tidak dilarang untuk berharap. Namun ketika kita berharap pada suatu hal ya siap-siap saja untuk kecewa ketika harapan itu tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Ketika harapan yang sudah mewarnai imajinasi kita itu melesat ya pastinya kita akan merasa kecewa. Sangat kecewa, apalagi ketika harapan itu berkaitan dengan masalah hati. Memang kalau sudah menyentuh hati tidak ada sesuatu yang bisa dianggap remeh, soalnya dampak yang ditimbulkannya. Memang akan terasa indah ketika apa yang kita harapkan itu benar-benar terjadi. Seakan kita merasakan nikmatnya duren matang pohon. Haha. Bahkan bisa lebih dari itu. Soalnya memang kita akan merasa sangat gembira, hingga melayang saking keenakan.

Saya pernah merasakan kecewa akibat harapan yang terlalu tinggi yang tidak sesuai dengan kenyataan dua kali. Pertama harapan yang berkaitan dengan kebutuhan yang bersifat benda. Kedua, (ini yang paling besar dampaknya) berkaitan dengan masalah cewek. Memang kedengarannya klise teman. Namun sesuatu yang klise itu akan berbeda ketika kita mampu meramunya dengan baik. Pertama yang berkaitan dengan benda. Kejadian ini bermula ketika salah satu saudara saya berkeinginan untuk membelikan laptop baru ketik saya sedang butuh banget. Ketika itu saya sangat berharap pada saudara. Namun kenyataannya tidak sesuai sama sekali dengan keinginan saya. Dengan alasan yang kedengaran dibuat-buat saudara saya mangkir dari janjinya. Ya, kecewa banget pokoknya ketika saya tahu kalau saudara saya mengingkari janjinya. 

Memang saya juga salah sebenarnya kenapa harus percaya begitu saja dengan saudara saya. Seharusnya saya harus tahu dirilah, kan saya cuma saudara sepupu saja. Kejadian tidak enak yang membuat saya sempat drop untuk kedua kalinya terjadi ketika saya terlalu berharap terhadap mantan adek kelas SMA saya. Ya sama dengan kasus pertama namun yang membedakannya yaitu dampak yang ditimbulkan untuk yang kedua ini lebih besar. Ya, saya sudah terlanjur percaya dan menaruh perasaan saya padanya. Namun ternyata ya sudah bisa ditebak. Gagal maning pokoknya. Perasaan saya yang sudah terlanjur ada ke adek kelas saya itu terpaksa harus saya hilangkan. Adik kelas saya yang awalnya meminta saya untuk suka ke dia ketika perasaan saya masih normal mendadak menghindar ketika saya sudah terlanjur suka padanya. Kecewa, pasti lah. Hancur ia, nyesek juga. Haha. Namun mau bagaimana lagi dunia harus tetap berjalan. Saya ikhlaskan saja kejadian ini dan saya juga berharap nantinya saya bisa memperoleh pengganti yang lebih mengerti tentang saya. Saran saya janganlah terlalu berharap pada seseorang, sebab ketika kita sudah terlanjur menggantungkan perasaan kita alias harapan kita kita juga harus siap-siap untuk kecewa ketika harapan itu cuma kosong atau cuma sekedar pepesan kosong.

Jember, 10 November 2012